EKSCHOOL.ID, – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi meminta agar sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) segera menyelesaikan kewajiban keuangan kepada Bank Jabar Banten (BJB) yang nilainya hampir mencapai Rp3,7 triliun.
Penyelesaian kewajiban tersebut dinilai penting untuk memperkuat kinerja perbankan daerah sekaligus menjaga stabilitas iklim usaha di Jawa Barat.
Hal itu disampaikan Dedi Mulyadi saat menjadi pembicara dalam kegiatan Round Table Discussion (RTD) yang diselenggarakan Nagara Institute bekerja sama dengan Akbar Faizal Uncensored (AFU) bertema “Jepitan Problem Investasi Danantara dan Pertumbuhan Ekonomi Daerah”, di PCC Ballroom Hotel Holiday Inn Bandung, Kamis 22 Januari 2026.
Dedi menekankan, kewajiban BUMN kepada BJB perlu segera diselesaikan karena berpotensi menghambat aktivitas ekonomi dan pembiayaan di daerah.
“Harapannya adalah pertama, BUMN-BUMN yang memiliki kewajiban terhadap BJB segera diselesaikan karena itu menjadi beban yang membebani kegiatan usaha di Jabar,” ujar Dedi usai acara.
Ia menjelaskan, Pemerintah Provinsi Jawa Barat bersama manajemen Bank BJB telah melakukan komunikasi intensif, termasuk melalui pengiriman surat resmi kepada Direktur Utama Danantara. Upaya tersebut, kata dia, telah mendapat respons positif.
Dedi juga menilai, konsep Danantara yang mengonsolidasikan pencatatan seluruh aset pemerintah memiliki nilai strategis untuk mendukung pembangunan, baik di tingkat pusat maupun daerah.
Sejalan dengan itu, Pemerintah Provinsi Jawa Barat tengah menyiapkan langkah konsolidasi Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Dalam waktu dekat, Pemprov Jabar berencana menandatangani nota kesepahaman untuk menggabungkan seluruh BUMD Jawa Barat ke dalam satu entitas, terpisah dari Bank BJB.
“Jadi, nanti itu hanya ada 2, satu ada BJB, satu lagi ada BUMD yang digabungkan, tidak berantakan seperti sekarang,” jelasnya.
Menurut dia, konsolidasi tersebut bertujuan untuk memperbaiki tata kelola BUMD yang selama ini dinilai belum optimal. Total aset BUMD Jawa Barat yang hampir mencapai Rp4 triliun diharapkan dapat dikelola secara lebih efektif dan produktif.
Sementara itu, Akbar Faizal menyampaikan, RTD edisi ketiga yang digelar di Bandung merupakan bagian dari upaya Nagara Institute dan AFU untuk menjembatani pemikiran publik dengan pandangan para ahli terkait isu investasi dan pertumbuhan ekonomi.
Hasil dari rangkaian diskusi tersebut rencananya akan dibukukan dan disampaikan kepada Presiden RI serta pihak Danantara sebagai rekomendasi kebijakan. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian diskusi strategis yang digelar di 10 kota besar di Indonesia dengan melibatkan tokoh nasional, pengamat kebijakan, dan akademisi.










