EKSCHOOL.ID, – Pemerintah Kota Bandung mencatat rata-rata sampah yang dihasilkan warga dalam sehari mencapai 1.500 ton, bahkan bisa lebih saat akhir pekan. Dari jumlah tersebut, sejauh ini yang berhasil diolah sebanyak 300 ton, sisanya dibuang ke tempat pembuangan akhir.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Bandung, Dudy Prayudi menjelaskan, jumlah itu merupakan prediksi total dari sumbangan tiap satu orang memproduksi 0,6 kg per hari.
“Belum lagi saat akhir pekan Bandung menjadi tujuan wisata, maka sampah yang dihasilkan bisa mencapai 1.600 ton per hari,” jelas Dudy melalui siaran pers yang diterima.
Pihak pemerintah Kota Bandung terus berupaya mengatasi masalah tersebut dengan tidak lagi mengandalkan sistem kumpul, angkut, lalu buang dari tempat penampungan sementara (TPS) ke tempat penampungan akhir (TPA).
WOW! Di Kota Bandung, Jumlah Kendaraan Hampir Menyamai Populasi Penduduk
Masyarakat diminta turut andil dalam mengolah atau memanfaatkan sampah yang diproduksi di level rumah, melalui program Kang Pisman (kurangi, pisahkan, dan manfaatkan) sekaligus memisahkan sampah organik dan anorganik.
Pemanfaatan sampah organik bisa menjadi kompos. Sedangkan sampah anorganik bisa dibuat kerajinan atau diberikan ke Bank Sampah. Namun, ia mengakui jika program ini belum berjalan serentak di seluruh wilayah Kota Bandung. Fakta di lapangan, sampah masih kerap bercampur karena belum dipilah oleh masing-masing rumah tangga.
“Pemerintah Kota (Pemkot) sudah mengolah sekitar 300 ton per hari. Sehingga, sampah yang kita kirim ke TPA Sarimukti itu tersisa 1.200-1.300 ton per hari,” kata dia.
“Mungkin karena mereka belum paham atau ingin praktisnya saja. Ini menjadi PR kita untuk bisa menyadarkan masyarakat akan pentingnya pemilahan sampah. Kita butuh peran aktif dari masyarakat. Tanpa adanya peran dari semua stakeholder, tentu sulit,” akunya.
60 Persen Milenial dan Gen Z Tercatat jadi Pemilih di Pemilu, Perhatikan Ini Guys
Upaya lain adalah mengubah TPS dari tempat penampungan sampah menjadi tempat pengolahan sampah. Kemudian, dibuat tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) di Cicukang Holis menggunakan teknologi Refuse-Derived Fuel (RFD).
“Tahun ini akan dibangun di tiga tempat, Tegallega, Nyengseret, dan Cicabe. Kemudian tiga TPST lagi di tahun depan. Kalau tidak salah di Pasir Impun, Jelekong, dan Taman Kehati Palasari,” tuturnya.
Selain TPST, Pemkot Bandung juga mewacanakan untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa), dengan mengubah sampah menjadi energi alternatif atau terbarukan. Selain menjadi listrik, bisa juga menjadi biodigester dan RDF.
Hanya saja, sampai saat ini, program tersebut masih berproses, belum menuju pada pembangunan. Namun, ia mengungkapkan, jika wacana PLTSa ini pun menjadi fokus pembahasan pada TPA Legok Nangka yang nantinya memiliki konsep waste to energy dalam skala regional.










