EKSCHOOL.ID, – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengusulkan perubahan batas maksimal penghasilan orangtua bagi mahasiswa penerima beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah.

Dedi meminta Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek) mempertimbangkan kenaikan batas penghasilan tersebut agar semakin banyak mahasiswa dari keluarga yang membutuhkan dapat mengakses pendidikan tinggi.

Saat ini, syarat penerima KIP Kuliah menetapkan penghasilan orangtua berada di bawah Upah Minimum Provinsi (UMP) di domisili mahasiswa. Untuk Jawa Barat, batas tersebut berada di kisaran Rp2,3 juta.

Menurut Dedi, batas tersebut terlalu rendah dan perlu disesuaikan dengan kondisi ekonomi masyarakat saat ini.

“Saya usul agar nanti ketentuannya dibawah Rp10 juta boleh dapat KIP,” kata KDM, dalam keterangan tertulisnya, Selasa 11 Agustus 2026.

Usulan tersebut disampaikan Dedi saat memberikan kuliah umum kepada ribuan mahasiswa baru dalam rangka Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Penerimaan Raya Mahasiswa Baru Universitas Padjadjaran (Prabu) Tahun Akademik 2026/2027 di Stadion Jati Padjadjaran, Unpad Kampus Jatinangor, Senin (10/8/2026).

Dalam kesempatan itu, Dedi merespons keluhan sejumlah mahasiswa terkait tingginya Uang Kuliah Tunggal (UKT), termasuk mahasiswa yang orangtuanya berprofesi sebagai aparatur sipil negara (ASN).

Keluhan juga datang dari mahasiswa jalur prestasi dan mahasiswa penyandang disabilitas. Mereka mengaku harus menghadapi beban biaya kos, kebutuhan hidup, hingga biaya kuliah yang cukup tinggi selama menempuh pendidikan di kawasan Jatinangor.

Salah satunya disampaikan Gina, mahasiswi penyandang disabilitas netra. Ia bersyukur mendapat kesempatan kuliah gratis di Unpad sekaligus berharap pemerintah memberikan perhatian lebih besar terhadap akses pendidikan bagi penyandang disabilitas.

Dedi kemudian meminta para mahasiswa tidak menyerah hanya karena terkendala biaya. Menurutnya, tekad kuat untuk menyelesaikan pendidikan harus menjadi modal utama dalam menghadapi berbagai keterbatasan.

Tak sekadar memberi motivasi, Dedi juga memberikan bantuan langsung kepada sejumlah mahasiswa. Bantuan tersebut antara lain uang kos untuk kebutuhan selama dua tahun dan biaya kuliah gratis selama lima semester.

Dedi juga memberikan modal usaha sebesar Rp5 juta kepada mahasiswa yang berencana menjalankan usaha kecil untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup selama kuliah.

Ia menegaskan, keterbatasan ekonomi tidak boleh menjadi alasan seseorang gagal menempuh pendidikan tinggi.

Menurut Dedi, kuliah merupakan salah satu jalan untuk membuka kesempatan mendapatkan kehidupan yang lebih baik di masa depan.

“Jangan hanya mengejar gelar akademik namun perbanyak pengalaman selama menjadi mahasiswa. Jadikanlah kesulitan itu sahabat agar Anda menjadi orang yang mampu, tidak mengalami masalah ketika berhadapan dengan kesulitan. Musuh jangan dijauhi, tapi jadikan temannya,” ucap KDM.

Pesan Mahasiswa untuk KDM

Dalam sesi dialog, sejumlah mahasiswa juga menyampaikan aspirasi secara langsung kepada Gubernur Jawa Barat.

Livy, mahasiswi asal Depok, meminta Pemprov Jabar memperhatikan kondisi jalan di kawasan Jatinangor, khususnya yang berada di lingkungan kampus.

Ia bahkan menyatakan kesiapannya bersama mahasiswa lain untuk ikut menjaga dan memperbaiki lingkungan kampus.

Menanggapi hal tersebut, Dedi menjelaskan sebagian jalan yang dimaksud merupakan jalan nasional sehingga kewenangannya berada di tangan pemerintah pusat.

Meski demikian, Dedi memastikan akan berkoordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum. Jika mendapat izin, Pemprov Jabar siap ikut turun tangan melakukan perbaikan.

“Kalau diijinkan tahun depan kinclong. Tapi warga kampus juga harus ikut menjaga kebersihan lingkungan,” tegasnya.

Sementara itu, Keisya, mahasiswi kedokteran hewan, mengungkapkan keinginannya untuk ikut mengembalikan keanekaragaman satwa di Indonesia.

Namun, ia mengaku prihatin karena peminat kedokteran hewan masih lebih sedikit dibandingkan kedokteran umum. Bahkan, profesi tersebut terkadang masih dipandang sebelah mata.

Dedi justru meminta Keisya tidak berkecil hati. Menurutnya, kebutuhan dokter hewan sangat besar, baik di sektor swasta, BUMN maupun pemerintahan.

Ia menilai peluang penghasilan dokter hewan juga sangat terbuka, bahkan dapat lebih besar dibandingkan dokter umum pada bidang tertentu.

Dedi mendorong Keisya terus mengejar cita-citanya, terlebih keinginannya untuk membangun basis data hewan endemik Indonesia dinilai memiliki manfaat besar bagi pelestarian keanekaragaman hayati.

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.