EKSCHOOL.ID, – Kebahagiaan tak bisa disembunyikan dari wajah Atha Fathurrahman. Siswa kelas 2 SDN Waluya 02, Kecamatan Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi, itu berhasil mengharumkan nama sekolah setelah meraih medali emas dalam IMEC Olympiade bidang Matematika di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 30 Mei 2026.
Prestasi tersebut diraih Atha setelah melewati tahapan kompetisi yang diikuti peserta dari berbagai negara. Kemampuan matematikanya diuji dalam kompetisi internasional yang diselenggarakan UniCEP Committee asal Australia.
Bagi Atha, momen pengumuman pemenang menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Ia harus menunggu namanya dipanggil setelah sejumlah pemenang mulai diumumkan.
“Senang. Waktu nama saya belum dipanggil, mulai dari juara Honorable Mention, juara dua, sampai akhirnya nama saya dipanggil, juara 1, saya sempat keluar air mata,” ujar Atha, dikutip dari laman resmi JabarProv, Selasa 12 Agustus 2026.
Perjalanan Atha menuju panggung juara tidak terjadi secara instan. Ia terlebih dahulu mengikuti tahapan seleksi melalui kompetisi daring sebelum akhirnya memperoleh kesempatan tampil pada babak final di Kuala Lumpur.
“Lombanya di Kuala Lumpur, Malaysia. Saya berangkat naik pesawat bersama ayah, ibu, dan oma. Di sana sekitar tiga hari,” kata Atha.
Ketertarikan Atha terhadap matematika juga tumbuh secara alami. Orang tuanya, Rahman, mengatakan sang anak mulai mengikuti berbagai kompetisi setelah memperoleh beasiswa dari sebuah lembaga bimbingan belajar.
“Awalnya kami ikut les di sebuah lembaga, kemudian Atha mendapatkan beasiswa. Dari sana dia mengikuti berbagai lomba secara online yang memang sudah masuk taraf internasional. Ada babak penyisihan dan final, jadi tidak langsung ikut kemudian mendapatkan juara,” jelas Rahman.
Di babak final yang berlangsung di Malaysia, Atha berhasil meraih dua kategori sekaligus, yakni Gold dan Diamond. Kategori Diamond diberikan setelah Atha mampu menjawab sekitar 90 persen soal dengan benar.
“Untuk yang final di Malaysia kemarin, dia mendapatkan dua kategori, satu Gold dan satu Diamond. Diamond itu diberikan untuk penilaian jawaban yang mencapai 90 persen benar,” ungkapnya.
Rahman menegaskan, prestasi tersebut bukan hasil dari paksaan orang tua. Minat Atha terhadap angka justru tumbuh dari rasa ingin tahu yang berkembang sejak usia dini.
“Kami sebagai orang tua tidak pernah memaksa. Awalnya dia tertarik dengan planet dan benda-benda bulat, kemudian mulai tertarik dengan negara dan dari situ mulai suka berhitung. Kami melihat minatnya, lalu kami carikan wadah yang sesuai,” tutur Rahman.
Sejak duduk di bangku taman kanak-kanak, Atha sudah mulai mengikuti kompetisi matematika. Meski pada awalnya belum langsung menjadi juara, pengalaman tersebut menjadi pijakan untuk terus mengasah kemampuan.
“Dari TK dia sudah ikut lomba matematika nasional. Memang waktu itu baru mendapatkan juara harapan, tetapi kami melihat memang sudah ada bakat dan ketertarikan. Ketika mendapatkan kesempatan melalui Olympic Champ, Alhamdulillah bakatnya bisa tersalurkan,” katanya.
Prestasi Atha mendapat apresiasi dari pihak sekolah. Kepala SDN Waluya 02, Eber, menilai kedisiplinan menjadi salah satu kunci penting dalam mengembangkan potensi siswa.
“Kalau ingin berprestasi, ya harus disiplin. Kalau ingin menjadi orang baik juga harus disiplin. Disiplin menjadi salah satu program sekolah dan kami terus menanamkan itu kepada anak-anak,” tegas Eber.
Pihak sekolah juga berencana memperkenalkan prestasi Atha kepada warga sekolah. Langkah tersebut diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi siswa lain sekaligus mendorong orang tua untuk memberikan ruang bagi anak dalam mengembangkan potensi masing-masing.
“Kami sangat mengapresiasi dan sangat luar biasa atas prestasi Atha. Ke depan, Atha dan siswa kami yang berprestasi lainnya akan kami perkenalkan di lingkungan sekolah. Tujuannya untuk mendorong anak-anak lain dan para orang tua agar semakin termotivasi,” pungkasnya.










