Ekschool.id – Gengs, kalian tau kan Observatorium Bosscha yang ada di Lembang, Kabupaten Bandung Barat?. Tahun ini, tepatnya Senin (30/1), bangunan yang masuk kategori Cagar Budaya itu sudah berusia satu abad alias 100 tahun.

Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil dan beberapa pejabat serta akademisi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) hadir dalam bikin acara peringatan khusus di sana.

Dalam sambutannya, Pak Gubernur menyebut bahwa keberadaan Bosscha sudah memberikan kontribusi pengetahuan astronomian tidak hanya di Indonesia, asia, tapi juga di dunia.

Salah satu keistimewaannya adalah posisi Bosscha berada di daerah ekuator yang bisa melihat belahan langit utara (northern hemisphere) maupun belahan langit selatan (southern hemisphere).

Tapi, seiring berjalannya waktu, Kawasan di sekitar Bosscha berkembang sehingga berdampak pada polusi cahaya yang dapat mengurangi akurasi alat pengamatan. Pak Ridwan Kamil bilangnya sih mau mengupayakan untuk mengantisipasi agar tidak memburuk.

Pemda Kabupaten Bandung Barat sudah menetapkan Observatorium Bosscha sebagai bangunan cagar budaya pada tahun 2021. Nah, Pemerintah Provinsi Jawa Barat akan menguatkan dan memperluas menjadi kawasan cagar budaya agar lebih terlindungi.

Kamu Bisa Baca Juga: Baca Buku Sambil Santai, Pitimoss Fun Library Pilihannya

“Sedang persiapan menjadi (kawasan) cagar budaya supaya nanti kawasan ini bisa dilestarikan. Sehingga tujuan utama menghasilkan kajian-kajian dan temuan tidak terganggu oleh perkembangan ekonomi atau perkembangan pembangunan yang menggerus wilayah di sini,” kata dia.

Rektor ITB Prof Reini WIrahadikusumah mengaku akan mendukung beberapa program yang menghidupkan astronomi sebagai sains dan perannya dalam kebudayaan. Dia pun berterimakasih kepada semua pihak yang telah mendukung keberadaan Boscha.

“Ini bukan sekedar dedikasi atau bekerja tapi ini adalah kesetiaan adalah cinta dedikasi yang kadang terasa sunyi dan panjang, tapi tidak sendirian. Semoga terus bersemangat berkarya menjaga fasilitas kita ini dan ilmu pengetahuan untuk bangsa,” kata Reini.

Dari informasi yang berhasil dihimpun, sejarah panjang Observatorium Bosscha dimulai pada1920 dengan pembentukan Nederlands Indische Sterrenkundige Vereeniging (NISV) yang diprakarsai dan dipimpin oleh K. A. R. Bosscha untuk menghimpun sumber daya, pemikiran, dan persiapan untuk mendirikan fasilitas pengamatan astronomi.

Pada 1 Januari 1923 Observatorium Bosscha diresmikan dan menjadi perintis astronomi modern di Asia Tenggara dengan mengambil astrofisika bintang sebagai topik riset utama, dengan dorongan terobosan sains fisika dunia pada awal abad ke-20.

Teleskop refraktor ganda Zeiss dihadiahkan oleh K.A.R. Bosscha kepada Observatorium Bosscha pada tahun 1928, yang menjadikan observatorium ini terbesar ketiga dan termodern di bumi bagian Selatan pada era itu.

Saat ini sebagai bagian dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam ITB, Observatorium Bosscha menjalankan amanah Tridharma Perguruan Tinggi dengan lingkup pekerjaan penelitian, pendidikan, dan pengabdian masyarakat. Penelitian mencakup di antaranya pengamatan bulan, matahari, tata surya, bintang, dan galaksi Bima Sakti.

Aspek pendidikan, Bosscha mendukung program S1, S2, dan S3 program studi
astronomi serta memfasilitasi penelitian tugas akhir, tesis, dan lain – lain untuk mahasiswa ITB dan luar ITB.

Sementara pengabdian masyarakat mencakup pengembangan materi dan metode penyampaian edukasi astronomi sebagai sains, dan pemberian berbagai layanan edukasi untuk sekolah dan masyarakat umum, daring maupun luring. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *