EKSCHOOL.ID, – Keberadaan ruang industri kreatif Hallway di Pasar Kosambi tidak terlepas dari keberadaan Bob. Sosok ini menjadi salah satu pencetus keberadaan tempat berbagai brand anak muda Kota Bandung berkumpul dan berkolaborasi.
Ekschool mendapat kesempatan berbincang dengan Bob, mendengar secara langsung tentang masa lalu, hari ini, dan tujuan hidup Bob di kemudian hari untuk perkembangan kreativitas anak muda Bandung.
Berikut ini wawancara khusus Ekschool bersama Bob.
1. Kenapa buat usaha warebobe yang konsen pada topi?
Jadi warebobe ini dibentuk karena dari kegelisahan Bob dulu. Salah satunya mungkin dulu saat jaman SMA sering menggunakan topi karena rambut kribo sendiri, sementara yang lain lagi musim rambut emo, jadi pakai topi terus. Dan salah satu topi yang cocok itu jenis flat cap, pernah beli di salah satu mal. Topi itu sempat hilang dan pas nyari ga ada topi jenis itu yang pas. Dari 2013 coba cari konveksi yang bisa bikin topi model itu sampai akhirnya dapat pas 2014.
2. Bukannya dulu pas tahun itu lagi banyak kerjaan manggung musik?
Dulu memang bermain musik di musik tradisional, tapi ternyata ada hal yang bikin bob merenung. Kyaknya sebagai musisi akan ada waktunya di mana Bob tidak akan mendapatkan panggung. Akan ada titik di mana Bob tidak akan ada lagi yang ngajakin buat manggung, terus mungkin panggungnya tidak ada. Sudah kepikiran seperti itu jadi kayaknya harus bikin usaha deh makanya warebobe ini digas terus dan hal yang dirasain itu kerasa pas covid-19 awal.
3. Selain buka usaha fesyen, merambah ke mana lagi?
Seiring berjalannya waktu selain bikin fesyen akhirnya menemukan hal yang memang disukai. Selain jualan kayak menemukan tempat yang berpotensi salah satunya pasar Kosambi yang dibikin di Hallway. Dari perjalanan ini saya bertemu istri yang memang satu visi atau punya kegelisahan yang sama. akhirnya bikin produk makanan. Dulu bikinnya pas saya jualan makanan kok gagal terus. kalau enggak busuk ya sudah tidak laku. Dan itu ada dorongan dari istri bikin produk makanan du mana dua-duanya bakmi, ada badami dan upami.
4. Bedanya apa Badami dan Upami?
Badami terbentuk karena hasil diskusi sama istri dan buka tutupnya terserah Bob. Bkannya di rumah tapi sistemnya ini reservasi jadi kayak orang nggak bisa datang makan. Kalau buka hari Sabtu, pas Kamisnya kita udah buka reservasi. Dan sekarang sudah sering habis lah.
Beda lagi sama si Upami. Ini dibentuk karena hasil dari orang-orang kaya tanya, buka jualan mi kapan. Nah istri itu kasih masukan, ya udahlah kita bikin second brand yang memang buka tiap hari dan itu menunya beda, lebih ke basic food Indonesia lah, ada bakmi Kalimantan, ada bakmi Bangka, dan bakmi ayam kampung. Kalau Badami memang gusion bikin menu sendiri ada bakmi apa, di mana.
5. Kembali sebagai pendiri Hallway, gimana rasanya membangun brand ini?
Pusing banget ngurusin lebih dari 100 kepala itu, ternyata susah. Masalahnya keluar setelah berjalan, setelah bisnisnya mulai berkembang jadi ternyata mulai ketahuan oh Ini masalahnya ada di sini, di sini, karena memang tidak ada dasar manajemen building, dasarnya karawitan kemudian mengelola tempatkan ini tidak nyambung. Lumayanlah jadi rada berat, tapi ini salah satu yang memang Bob idam-idamkan sama teman karena waktu itu pada waktu itu ada beberapa tempat kalau sekarang disebutnya place making kayak gudang Selatan, di Jakarta ada Pasar Santa, itu jadi inspirasi buat sama teman membangun Hallway ini.
6. Konsep awal Hallway ini kaya gimana?
Jadi dulu bikin Hallway memang diperuntukkan untuk teman-teman brand yang baru. Misal ada nama brand Miracle, dia bikin dari SMA dan sekarang kuliah brandnya semakin berkembang dari dulunya yang tidak punya toko kita ajak buka di Hallway punya toko satu, sekarang dia pindah ada dua toko dan terus nambah lagi jadi tiga toko. Jadi ini memang wadah teman-teman baru untuk mengembangkan usahanya. Bukan hanya memanfaatkan Hallway, tenany juga ada kolabrasi dengan tenany lainnya, karena bisa saling berbagi ilmu cara berjualan, jadinya brand di sini berkembangan. Sekarang Hallway sudah berjalan tiga tahun.
7. Bagaimana melihat kondisi ruang kreativitas anak muda Bandung dari sudut padang kamu sekarang?
Kota Bandung ini snagat kreatif, cuman Bandung ini masih kekurangan tempat yang bisa digunakan para anak muda. Nah Hallway ini bisa jadi alternatif tempat anak muda mengembangkan industri kreatif di Kota Bandung. Karena menurut Bob Kota Bandung masih kekurangan tempat-tempat untuk menggelar entah konser, pameran, atau eksibisi yang besar. Di Bandung ini sebenarnya kecil jadi untuk mendapatkan ruang yang kondisnya bagus ini agak susah. Kalau mau mahal pisan ada, kalau murah pesan yang murah ada, kalau yang medium atau yang tidak terlalu mahal ini belum ada. Nah ini kita bikin pengen bikin ruang itu tapi dengan spek yang bagus bisa jadi namanya Hallway.
8. Proyek jangka panjang kamu apa nih?
Ingin membuat tempat lain seperti di sini yang memang bisa digunakan. Tapi sementara masih di Hallway Pasar Kosambi aja karena di sini masih ada lahan yang belum dikembangkan seperti di lantai empat dan lima yang selama 15 tahun mati. Masih yang bisa dieksplor di sini mungkin lima tahun ke depan.
9. Tujuan hidup kamu apa sebenarnya? Dengan membangun Hallway dan membuka berbagai usaha?
Goalsnya ga munafik lah ingin kaya raya. Tapi ya banyak yang ingin dikembangkan dulu karena perjalanannya masih panjang. Ada usaha-usaha kecil yang harus dikembangjkan, semoga bisnis ini bisa berjalan lancara sesuai dengan nafasnya. Jadi biar tidak terlalu cepat juga tidak terlalu pelan juga, tapi semua mengalir, tapi ya pengennya semua lancar tidak ada yang kesandung atau berhenti di jalan, semua berjalan sesuai nafasnya.
10. Hal apa yang harus dilakukan anak muda sekarang bisa tidak menyesali hidup dengan berkayar atau berwirausaha?
Yang paling harus dilakukan adalah coba ada dulu untuk berbagai hal. Itu seperti hal yang harus ditanamkan. Kalau mau bikin, kalau tahu ingin sesuatu, ingin berkembang atau bikin sesuatu yang mulai saja dulu. Kalau enggak sama sekali dicoba kayaknya tidak akan dapat-dapat hasilnya.
Di usaha ini mental rugi, mental enggak laku itu memang harus sudah sadar karena bisnis ini bisa laku atau engga. Tidak akan jalan kalau berpikir seperti itu makanya jalan saja dulu karena bisnis akan berjalan sendiri. Menurutku perjanalan bisni itu adalah belajar, jadi sekolahnya ini di perjalanan, kalau salah belok ke sana, yangan berarti tidak boleh ke sana lagi.
11. Apa yang harus dilakukan anak muda khususnya Gen Z Kota Bandung dalam mengembangkan kreativitasnya?
Kalau menurut Bob sih dari segi kreativitas ini anak-anak di Bandung semakin ke sini sebetulnya semakin berkembang. Jadi banyak keluar ide-ide yang mungkin tidak tidak keluar dari anak jaman 90-an. Tapi mungkin anak muda sekarang ini baiknya juga tetap kolaborasi dengan orang-orang lama biar menguatkan ide kreatifnya.
Aktivitasnya jadi tidak hanya anak-anak Gen Z ini bikin sesuatu, karena kadang ada orang yang bikin sesuatu tapi tidak tahu mau ke mana. Mereka ini perlu orang” lama untuk mendorong teman-teman atau regenerasi selanjutnya dalam mengembanhkan ide kreatif tersebut.
12. Kalau bisa memutar waktu apa yang ingin disampaikan pada Bob yang sekarang oleh Bob masa lalu?
Kalau bisa memutar waktu, banyak sih. Jadi salah satunya mungkin kayak lebih ke sabar terus apa ke Bob yang dulu ngasih tahu bahwa harus tenang, sabar, nanti ada ketemu jalannya.(DEB)










