EKSCHOOL.ID, – Stigma buruk akan fesyen punk dan punk itu sendiri di Indonesia sangat terlihat, dan dapat dibuktikan dengan cara sederhana. Buka mesin pencarian Google dan ketik kata kunci: Punk di Indonesia Berita. Pilih media teratas, terus lihat ada berita terbaru apa saja soal punk. Nyaris semua bernada negatif.

Jika terlalu rumit dan banyak, kita bisa membuka salah satu media ternama: detik.com. Lalu, ketik kata kunci punk. Dengan mudah, kita bisa melihat rupa-rupa berita negatif soal punk. Pada 10 Agustus, detik.com menulis “Anak Bergaya Punk Mabuk-Berkelahi di Wirun Sukoharjo, Sempat Serang Polisi.” Enam hari sebelumnya, ada berita bertajuk “Satpol PP Ciduk Belasan Anak Punk di Kampung Turis Kuta.”

Itu kan punk, bukan fesyen punk. Terus apa relasinya? Jadi gini, orang tahu orang lain punk atau bukan dari fesyen. Sebab, fesyen menjadi salah satu medium terdepan dalam menyampaikan identitas. Tentu saja, media menulis “punk” di tajuk berita karena fesyennya. Enggak mungkin kan, media mengonfirmasi satu per satu: “Kamu punk?”

Selain itu, ada juga insiden besar dan jadi sorotan dunia internasional yang memperlihatkan betapa buruknya pandangan masyarakat Indonesia terhadap fesyen punk. Insiden itu terjadi pada 2011.

BACA JUGA INI GENGS…Punk: Simbol Global, Isu Lokal (Bag I)

Dilansir BBC, polisi syariah Aceh menangkap 60 anak punk yang sedang menonton sebuah konser. Konser tersebut sebenarnya memiliki tujuan baik, yakni mengumpulkan donasi untuk anak yatim.

Namun, polisi syariah menggerebek lokasi konser dan menangkap orang-orang yang melekatkan fesyen punk di tubuhnya. Tentu saja, mereka yang berambut mohawk jadi target penangkapan.

Setelah itu, banyak media massa luar negeri, seperti Washington Post, New York Daily, dan Sydney Morning Herald, yang memberitakan penangkapan tersebut. Media tersebut rata-rata menuliskan bahwa penangkapan itu melanggar HAM.

Dari insiden tersebut, kita dapat melihat bahwa fesyen punk benar-benar dicap buruk. Jika ada sekelompok orang memakai fesyen punk dalam jumlah besar, sudah pasti akan meresahkan masyarakat.

Fesyen punk memang membuat jalanan jadi pertunjukan urakan. Sebagai pertunjukan urakan, fesyen punk menyulut sorot mata tajam yang penuh olok-olok, sekaligus menghadirkan kengerian dan kegelian.

Keberadaan fesyen punk sangat tidak lazim di Indonesia. Masyarakat pada umumnya merasa tidak nyaman dan risih dengan orang-orang yang melekatkan fesyen punk di tubuhnya, seperti rambut mohawk, baju robek-robek, dan kalung rantai.

Respons orang-orang terhadap fesyen punk cukup beragam. Namun, respons tersebut kebanyakannya tidak jauh-jauh dari keluhan. Misalnya, “Apa-apa, sih, pakaiannya gitu.” “Mirip banget sama preman yang jahat itu.” Atau “Sebel, ih, lihatnya.”

Yang menarik, ada banyak sekali perdebatan soal fesyen punk yang melekat di tubuh orang-orang tanpa pekerjaan di jalanan. Biasanya, mereka berkumpul dalam kelompok dan mengamen sebagai mata pencaharian. Tentu saja, mereka selalu mengaku punk.

Di sisi lain, ada juga yang menilai mereka anak jalanan, bukan punk. Fesyen punk yang mereka kenakan hanya gaya-gayaan saja, bukan identitas. Namun, tetap saja, meski gaya-gayaan, itu tetap fesyen yang menyimbolkan punk.

Sarat Filosofi

Terlepas dari stigma buruk, fesyen punk sarat akan filosofi yang senada dengan semangat punk itu sendiri, yakni melawan penguasa tiran sekaligus melepas kekecewaan kelas pekerja terhadap sistem ekonomi kapitalisme serta kebijakan penguasa.

Terdapat pola-pola aksi pemakaian simbol dalam fesyen punk, seperti penggunaan objek-objek pakaian seragam militer, aksesoris yang sudah mapan, untuk menghasilkan makna dan identitas bersifat ironis. Melalui pencurian makna dan simbol, punk menempatkan dirinya sebagai satu bentuk subversi, paling tidak secara simbolik menyampaikan sikap politis terhadap orde yang mapan.

Rambut mohawk yang tegak, misalnya, menjadi tanda anti penindasan sekaligus kebebasan. Gaya rambut ini terinspirasi dari film Drums Along the Mohawk. Film itu menceritakan tentang suku indian Mohican di lembah Mohawk.

Aksesori lain fesyen punk yang menonjol yaitu celana ketat yang menyimbolkan himpitan hidup, serta kemerdekaan gerak dan ide. Adapun bahan celana yang biasa dipakai adalah jeans, kulit, atau bermotif kulit hewan (_bandage pants_). Alasan penggunaan bahan tersebut cukup sederhana, yakni awet.

Selain itu, fesyen punk identik dengan tato bergambar tengkorak atau api. Tato ini menjadi simbol penguasaan penuh terhadap tubuh. Begitu juga dengan tindik. Sedangkan rantai menandakan solidaritas.

Aksesori lain yang menjadi salah satu ciri fesyen punk yaitu eye liner, paku atau benda tajam lain, serta stoking. Pernak-pernik itu mempunyai filosofi perlawanan.

Fesyen punk menjadi senjata bagi punk itu sendiri untuk terus mendentumkan nada-nada perlawanan, meski menyimpang dari norma maupun moral di tengah masyarakat.

Dalam jurnal bertajuk Punk: The Do-It-Yourself Subculture, Moran I.P menegaskan bahwa punk akan selalu mencari gaya hidup alternatif yang berbeda dari norma masyarakat. Fesyen punk adalah wujud dari semangat itu.

“Punk sebagai sebuah subkultur, lebih dari sekedar pemberontakan. Karena punk pada umumnya mencari gaya hidup alternatif yang berbeda dari norma-norma masyarakat,” tulis Moran.

*Penulis adalah Collaboration Ekschool

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *