EKSCHOOL.ID, – Ketika dunia terus berubah dan tuntutan hidup semakin liar, saya selalu membayangkan masa lalu dengan penuh keriangan. Dialog-dialog yang bersinggungan dengan masa yang sudah lampau nyaris tanpa kemuraman. Kalimatnya ringan-ringan, dengan tawa yang menggelitik.
Saya menganggap nostalgia adalah sarangnya fragmen sukacita dan pelipur lara masa kini. Jika hidup sedang aduh-aduhan, misalnya, saya selalu membongkar kenangan masa lalu dan menemukan tumpukan kegembiraan. Menengok masa lalu, entah kenapa, seringnya berakhir dengan hahahaha-hihihihihi.
Masa lalu saya tentu saja tidak mulus-mulus banget. Ada banyak kejadian yang menyesakkan, menyakitkan, dan menyedihkan. Kematian orang-orang terkasih, mulai dari ayah sampai kakek, misalnya. Namun tetap saja, saya jarang sekali merasakan penderitaan saat menjelajahi masa lalu.
Pendiri STEPS (Stress & Trauma Evaluation and Psychological Services) Valentina Stoycheva dalam esai bertajuk Why Nostalgia? The Amazing Power of Reminiscing menulis, nostalgia dapat membangkitkan gairah hidup ke arah lebih baik, menstimulus kebahagian, dan mengabarkan bahwa hidupmu saat ini baik-baik saja, kok.
Hebatnya, manusia memiliki kemampuan untuk memilih dan memilah fragmen-fragmen masa lalu mana saja yang ingin dikenang dan dijelajahi. Jika ada pertanyaan, masa lalu mana yang selalu saya jelajahi? Dengan tegas sambil mengepalkan tangan dan senyum sumringah, saya akan menjawab, “masa saat saya bersekolah di SMK Pasundan 3.”
Bagi saya, masa SMA tidak hanya indah, tetapi juga penuh kejutan. Kejutan terbesar datang saat saya duduk di kelas 10. Ketika itu, saya bertemu dengan kawan-kawan yang unik dan antik. Saking antik dan unik, mereka bisa mengobati mental saya yang sempat remuk redam karena status sosial, ekonomi, dan seterusnya, dan seterusnya.
Selain jago mengobati hal itu, mereka piawai betul berkata-kata soal Punk dan Bad Religion. Kata mereka, apalah arti hidup jika tak ada perlawanan, pembangkangan, dan lain-lain. Saya sempat bingung dengan kata yang mereka dentumkan.
Hingga akhirnya, saya menemukan jawaban prematur. Mereka begitu meyakini bahwa status sosial bukan penentu kebahagiaan. Jika hidupmu susah, ya, jangan banyak mengutuk dan merutuk. Silahkan berbahagia dan berkarya. Dunia tidak hanya milik kaum tertentu. Itu juga yang membuat saya kesengsem dengan mereka, Punk, dan Bad Religion.
Bersama kawan-kawan semasa SMA, hari-hari saya dipenuhi dengan lagu-lagu Bad Religion, Rancid, Rise Against, dan banyak band Punk lainnya. Lagu-lagu itu pun selalu menjadi backsound percakapan kami tentang musik, Punk, perlawanan, dan kritik terhadap sistem yang saya sendiri tidak tahu apa itu.
Kami berbicara banyak hal soal pemerintahan, kehidupan sosial, kemiskinan, dan seterusnya. Jarang sekali, kami membicarakan PR (pekerjaan rumah) atau rumus matematika. Jika ada yang membahas itu, kami akan mendentumkan kata-kata seperti ini, “kesuksesan tidak ditentukan oleh nilai raport.”
Percakapan yang terjadi berulang-ulang dan dalam waktu yang cukup lama, sekitar dua tahun, mendorong saya dan kawan-kawan membuat band Punk. Namanya D.O.G. Referensi kami tentu saja Bad Religion, Rancid, dan Rise Against.
Awalnya, kami hanya bersenang-senang dengan band tersebut. Hingga kemudian, kami memutuskan untuk manggung dari satu event ke event lainnya. Bukan sebagai bintang tamu, melainkan band regist. Artinya, kami harus bayar untuk tampil di event tersebut.
Ada banyak sekali indikator yang kami tetapkan. Pertama, kami tidak mau main di event besar. Kedua, tidak boleh ada band ternama di event itu. Ketiga, event harus punya semangat Punk. Indikator-indikator tersebut cukup berlebihan, ya? Apalagi bagi anak SMA yang masih ingusan. Tapi, ada cukup banyak event yang dapat memenuhi indikator tersebut dan saya senang sekali menjalaninya.
Oh, iya, saya dan kawan-kawan tergabung juga dalam movement bernama Semua Sama Rata. Movement itu rajin sekali menggelar event-event kecil. Bagi orang seumuran saya, mungkin tidak asing dengan sejarah Kafe Karamba –tempat event-event kolektif di sekitar Dago.
Selama bermusik dan bergaul dengan D.O.G, saya punya keyakinan besar bahwa “I’m Punk.” Meski, saya tidak tahu betul apa itu Punk, nilai-nilai Punk, sejarah Punk, dan lain-lain. Yang saya tahu saat itu Punk adalah gaya hidup anti kemapanan, punya prinsip kesetaraan (equal), dan bermusik. Hanya itu tok.
Dengan pengetahuan yang seadanya, saya banyak sekali mencemooh pengamen-pengamen bergaya Punk, seperti rambut mohawk, tato, celana ketat, tindik, dan baju lusuh. Sebagian dari kita juga mungkin sering melihat mereka di jalanan.
Bagi saya, pengamen bergaya Punk itu bukan Punkers –sebutan untuk anak-anak Punk. Mereka hanya anak jalanan yang merusak citra Punk di masyarakat, yang membuat Punk mendapat stigma buruk. Penilaian yang egois, bukan? Begitulah saya zaman dulu.
Punk sesungguhnya bagi saya, ya, seperti Bad Religion. Gaya busana biasa-biasa saja, berpendidikan tinggi, tetapi bermusik dengan lirik-lirik yang penuh amarah.
Saking tergila-gilanya dengan Bad Religion, saya sempat membenci Metallica. Alasannya sederhana, Bad Religion pernah menyebut Metallica sebagai band arogan. Padahal, lagu-lagu Metallica itu begitu mewah dan indah. Tapi tetap saja, saya benci Metallica. Hahahaha.
Setelah lulus SMA, saya berjalan sendiri. Niatnya, menguatkan langkah untuk masa depan cerah. Komunikasi dengan kawan-kawan SMA pun mengendur. Band D.O.G pun mati suri –karena sampai sekarang belum ada keputusan untuk bubar.
Selama perjalanan itu, baik dalam hal pendidikan dan karier, gagasan di benak saya silih berganti. Hari ini A. Bulan depan bisa saja Z, termasuk soal bayang-bayang dunia ideal dan Punk. Gagasan semua sama rata, sama rasa, sama-sama makan tiga kali sehari, bangsa penuh cinta, dan “I’m Punk” seperti sudah bersarang di TPA Sarimukti.
Saat ini, bagi saya, dunia ideal adalah dunia yang dipenuhi ayam goreng dan saus tomat, atau molen pisan dan es jeruk. Sedangkan “I’m Punk” adalah pernyataan absurd yang tidak bisa dijelaskan.
Perubahan gagasan dan keyakinan tersebut tidak membuat saya malu, kok. Justru, perubahan itu menandakan pengalaman hidup dan membaca saya masih berjalan baik.
Oh, iya, saya saat ini meyakini bahwa Punk hanya simbol perlawanan global yang bisa masuk ke semua gerakan social change atau movement. Punk itu juga hidup dari kelompok-kelompok kecil yang membahas isu-isu lokal.
Selain itu, dalam benak saya sekarang, Punk akan selalu mendentumkan nada-nada yang terdengar dekat dan hangat. Karena itu, saya yakin sekali bahwa Punk akan terus hidup dengan rupa yang berbeda-beda.
*Penulis adalah Collaboration Ekschool









