EKSCHOOL.ID, BANDUNG – Nenek selalu merayakan Hari Raya dengan sukacita dan dukacita sekaligus. Ada haru kebahagiaan menyambut kemenangan, dan dalam waktu yang bersamaan, nenek meresapi kematian orang-orang terkasih.

Dua hari sebelum Hari Raya tiba, nenek merepotkan diri memasak ini-itu untuk anak dan cucu yang akan berkunjung, meski usianya sudah menginjak 73 tahun. Sama seperti yang lain, bagi nenek, ketupat dan opor menjadi menu wajib yang harus ada di meja makan.

Ketika Lebaran datang, nenek dengan semangat meletup-letup mempersiapkan diri untuk salat Idulfitri. Aroma parfum dan mukena baru menyelimuti tubuh nenek yang sudah mulai ringkih. Langkahnya tidak sekuat dulu. Namun, itu tidak mengurangi kebahagiaan di Hari Raya.

Setelah salat Idulfitri, nenek akan duduk di kursi rumah. Anak dan cucunya berjajar untuk sungkem dan meminta maaf atas segala kesalahan selama satu tahun terakhir, baik itu yang disengaja maupun tidak disengaja. Toh, manusia suka lupa akan kesalahan sendiri. Permintaan maaf dengan tulus adalah penghapus dosa-dosa yang teringat maupun terlupakan.

Rasa haru tentu saja menyelimuti tradisi Lebaran keluarga nenek. Ada yang menangis sesenggukan. Ada ribut-ribut anak kecil yang berdebat soal berapa banyak THR yang didapat. Ada juga suara bayi yang merengek meminta sebotol susu. Meriah sekali.

Namun, setelah sungkem selesai, nenek akan berpidato tentang orang-orang terkasih yang telah tiada, seperti kakek yang meninggal dunia pada 2019, Aep Saepudin yang merupakan anak kedua nenek, dan Asep Nurdin yang juga anak ketiga nenek.

“Andai saja mereka masih ada, Lebaran akan terasa lebih hangat.”

Kata-kata itu, entah berapa kali Lebaran, selalu dikatakan nenek. Melalui pernyataan itu, nenek akan menenggelamkan diri dalam dukacita. Semua orang yang ada dalam rumah pun dipaksa untuk menyelami ingatan-ingatan akan orang-orang terkasih yang sudah tiada.

Ada banyak air mata yang mengalir di rumah nenek. Menangis memang selalu menjadi pilihan terbaik saat meratapi kehilangan. Sambil menyantap ketupat dan opor ayam, keluarga nenek mengenang segala kebaikan dan kehangatan orang-orang yang sudah lenyap di dunia.

Kehilangan yang Tidak Pernah Hilang

Kesedihan keluarga nenek di Hari Raya adalah hal lumrah. Sebagaimana mengutip tulisan Dea Anugerah dalam artikel bertajuk “Mereka yang Dipersatukan oleh Kesedihan”, setiap keluarga memiliki kemurungan dan kesedihannya tersendiri.

Dan menurut Dea Anugerah, apa yang terjadi pada keluarga nenek di Hari Raya adalah bentuk melankolia kolektif. Orang-orang melankolik selalu menyatukan ego dengan kehilangan yang telah terjadi. Ini juga yang membedakan melankolia dan duka.

Jika duka membuat orang-orang merasa dunia gersang dan hampa, melakonlia justru menilai diri sendiri gersang dan hampa. Menurut Sigmund Freud, orang-orang melankolik merasa dirinya tidak berharga, serta membenci sekaligus mengutuk diri sendiri.

Nenek sendiri menganggap dirinya bersalah atas kematian orang-orang terkasih. Nenek seperti tidak rela anak-anaknya masuk liang kubur duluan. Yang lebih mendalam, nenek menilai dirinya tidak mampu merawat suami dan anak-anaknya dengan benar.

“Andai dulu, Aep dirawat di rumah sakit ini. Andai penyakit Asep cepat-cepat ketahuan.” Begitu banyak kata “andai” yang selalu nenek ucapkan. Kata “andai” itu menandakan penyesalan yang begitu dalam. Nenek selalu menganggap ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan nyawa orang-orang terkasih, tetapi tidak dilakukan pada saat itu.

Melankolia kolektif keluarga nenek tidak selalu bernada buruk. Dengan menyelami kehilangan bersama, keluarga nenek dapat mengenal lebih baik diri mereka sebagai kesatuan. Kesalahan-kesalahan yang sudah terlaksana berguguran satu per satu. Maka, keluarga nenek selalu hangat dan bersahaja di Hari Raya.

Hari Raya yang datang setahun sekali pun ditutup dengan harapan-harapan sederhana. “Semoga tahun depan, kita masih bisa merayakan Hari Raya dengan formasi keluarga seperti ini.”

 

*Penulis adalah Collaboration Ekschool,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *