EKSCHOOL.ID, – Entah kutukan apa yang melekat pada Gen Z. Mereka yang kini berusia 11-26 tahun itu mendapat serangan brutal dari mulut pedas orang-orang tua yang masuk generasi sebelumnya dan dapat label milenial. Kalimatnya buruk-buruk, dengan nada nyinyir yang buat geleng-geleng kepala.
Komika bernama Oza Rangkuti adalah contoh perwujudan orang-orang tua itu. Ia menjadikan Gen Z sebagai bahan komedi. Lucu-lucu, tapi terdengar begitu menyesakkan, entah yang keluar dari mulutnya maupun jari-jarinya di media sosial.
Awal Oktober kemarin, misalnya, Oza menulis di X atau Twitter: “Mungkin Gen Z agak lemah soal kerja kantoran. Tapi, mereka itu juara di bidang lain seperti zinah dan ngelawan orang tua.” Serangan yang sangat ketus dan….ehem….menyulut emosi.
Secara naluriah, mereka yang diserang tentu akan melakukan segala cara untuk melawan. Ada yang menghancurkan olok-olok dengan narasi, ada yang meninju cacian dengan pembelaan, atau bahkan balik menyerang dengan hinaan yang senada.
Sialnya, ketika Gen Z berhadapan dengan serangan dan cibiran, perlawanan bukan satu-satunya pekerjaan rumah. Ada begitu banyak orang-orang tua lainnya yang bersorak atas keburukan itu, memaksa Gen Z berada di posisi sudah jatuh tertimpa monster truck.
Sorak-sorai itu bisa terlihat dari respons netizen di linimasa X atau Twitter atau apapun itu milik Oza. Ada yang bilang kalau Gen Z itu lembek di dunia kerja. Ada yang berkata kalau Gen Z itu gampang mengeluh, dan seterusnya, dan seterusnya.
Penilaian buruk soal Gen Z terjadi juga di lingkar pertemanan saya. Pertama, Gen Z itu overthinking. Kedua, Gen Z itu tidak punya mimpi untuk masa depannya sendiri. Ketiga, Gen Z itu problematik. Kelima, Gen Z itu punya tingkat kecemasan dan stres yang tinggi.
Tentu saja, lima penilaian itu hanya bagian kecil. Banyak sekali penilaian buruk lainnya soal Gen Z yang berasal dari lingkar pertemanan saya alias milenial. Penilaian itu tentu tidak muncul tiba-tiba. Ada faktor penyebabnya. Salah satunya, ya, pengalaman teman-teman saya yang berkomunikasi maupun bersinggungan dengan Gen Z.
Selain teman-teman saya, ada banyak laporan, penelitian, dan esai soal karakteristik Gen Z itu sendiri. Akademisi Stanford, Roberta Katz, misalnya, menyebut Gen Z memiliki sikap pragmatis dan sangat peduli terhadap orang lain.
Berdasarkan temuan Katz, Gen Z juga mempunyai rasa cemas yang tinggi terhadap isu-isu yang diwariskan generasi sebelumnya, seperti isu lingkungan dan iklim, menghargai kebersamaan, serta suka dengan kepemimpinan yang tidak hirarkis.
Sementara Ross E. O’Hara dalam esai bertajuk Who Is Generation Z? menuliskan bahwa Gen Z memiliki pandangan yang kuat soal betapa pentingnya uang. Menurut O’Hara, hal tersebut diakibatkan karena Gen Z menyaksikan secara langsung kesulitan keuangan saat mengalami resesi, dan melihat kesulitan milenial yang terlilit hutang.
Gen Z, kata O’Hara, sudah pasti piawai menggunakan teknologi dan mengakses internet. Berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya. Namun, di sisi lain, akses internet yang mudah dijangkau membuat Gen Z sulit membangun interaksi secara langsung dan membangun komunikasi tatap muka. Gen Z punya kesulitan berbasa-basi, dan kerap merasa terintimidasi oleh situasi sosial.
Kemudian, O’Hara juga dengan tegas menuliskan bahwa Gen Z merupakan generasi yang peduli dengan pendidikan. Mereka ingin sekali menyerap banyak pengetahuan. Sebab, pengetahuan adalah sumber kesuksesan: Semakin banyak tahu dan pintar, semakin cepat mewujudkan cita-cita dan mendapatkan penghasilan.
Kendati begitu, Gen Z tidak melihat gelar sarjana sebagai satu-satunya pilihan. Ada pandangan bahwa sekolah formal tinggi-tinggi, seperti S1, S2, dan S3, memiliki risiko yang besar. Salah satunya orang tua terlilit hutang dan kesulitan secara ekonomi. Pandangan itu menjadi kekhawatiran Gen Z ketika harus bersekolah tinggi-tinggi.
Terakhir, kata O’Hara, Gen Z itu punya tingkat kekhawatiran, kecemasan, dan depresi yang lebih tinggi dari generasi sebelumnya. Faktor penyebabnya, Gen Z mempunyai rasa takut yang tinggi pula terhadap kegagalan. Padahal, kegagalan adalah teman baik manusia yang selalu memata-matai. Sebagaimana mengutip tulisan Arthur Schopenhauer, penderitaan manusia yang berbeda-beda adalah hal lumrah di dunia ini.
Karena Kita-kita Juga
Saya sempat bertanya-tanya: Kenapa Gen Z dinilai seperti itu? Pertanyaan itu muncul karena saya tidak banyak berinteraksi dengan Gen Z. Bukan karena anti Gen Z, tetapi lingkungan pertemanan dan pekerjaan saya didominasi oleh generasi saya sendiri, yakni milenial.
Jawaban paling cepat yang saya dapatkan: “Gen Z itu lahir saat internet sedang naik daun, teknologi berkembang dengan pesat.” Kendati jawaban itu benar, saya belum puas. Toh, sebagian milenial juga ada yang lahir dalam kondisi tersebut. Hingga akhirnya saya menemukan jawaban yang lebih komprehensif dari esai Ewan Morrison bertajuk Have We Overburdened Gen Z With Fears of the Future?
Dalam esai tersebut, Morrison menyoroti tingkat depresi dan kasus bunuh diri Gen Z. Menurut Morrison, Gen Z rata-rata memiliki sikap apokaliptik. Sikap itu berada di kalangan Gen Z karena mengonsumsi karya-karya, seperti film, games, buku, lagu, dan seterusnya, milenial yang bertema kiamat dan depresi.
Ambil contoh, buku favorit Gen Z itu The Hunger Games dan Divergent. Sedangkan dua televisi yang top di kalangan Gen Z adalah The Walking Dead dan Dark. Gen Z juga memainkan games The Last of Us. Belum lagi, salah satu rujukan musik Gen Z adalah Billie Eilish yang lagu-lagunya sarat dengan tema depresi.
Deretan hal itulah yang menjadi benih-benih sikap apokaliptik Gen Z. Karena itu juga, Gen Z terjebak dalam perasaan malapetaka yang fatalistis. Oh, iya, kita juga jangan lupa bahwa perkembangan teknologi yang begitu pesat dan kehadiran internet yang memudahkan segala hal merupakan karya dari generasi-generasi sebelumnya.
Jadi, tulis Morrison, apa yang terjadi pada Gen Z, ya, karena milenial atau generasi sebelumnya. Mirip-mirip dengan karakteristik milenial yang terbentuk karena baby boomer. Selain itu, kondisi yang diciptakan generasi sebelumnya turut serta dalam pembentukan karakteristik suatu generasi. Misalnya, perang dunia II yang membuat baby boomer sedikit lebih kuat dan tahan banting.
Karena esai Morrison, saya ingin mengatakan: yang sabar, ya, Gen Z, yang bijak, ya, milenial. Menilai suatu generasi tentu saja boleh jika bertujuan untuk mengingatkan. Asal, jangan sampai, generasi yang sebelumnya itu menghakimi generasi terbaru dan menjatuhkannya dalam kondisi serba salah, serba nggak enak, serba ditekan. Toh, setiap generasi ada masanya, ada perbedaannya.
*Penulis adalah Collaboration Ekschool








