EKSCHOOL.ID, – Di tengah keterbatasan ekonomi keluarga petani di pelosok Kabupaten Rembang, mimpi besar Farida Nur Choliffah akhirnya menjadi kenyataan.

Siswi MA Al-Azhar Kecamatan Sale itu berhasil lolos ke Fakultas Kedokteran UIN Walisongo Semarang melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026.

Farida, yang akrab disapa Olif, tak pernah menyangka impiannya menjadi dokter benar-benar terbuka lebar. Putri pasangan Darsuki dan Marfuah itu sempat mengubur cita-citanya karena merasa kondisi ekonomi keluarga tidak memungkinkan untuk menempuh pendidikan kedokteran.

“Karena melihat kondisi ekonomi keluarga, saya perlahan mengurungkan niat tersebut karena merasa tidak ingin membebani orang tua saya,” ujar Olif, dikutip dari laman resmi Kemenag, Jumat 15 Mei 2026.

Meski begitu, gadis kelahiran 2008 tersebut tetap berjuang lewat prestasi. Selama duduk di bangku madrasah, ia konsisten meraih peringkat dua sejak kelas 10 hingga kelas 12. Olif juga aktif mengikuti berbagai lomba akademik, mulai dari Biologi, Matematika hingga Pendidikan Agama Islam di tingkat kabupaten maupun nasional.

Tak hanya akademik, Olif aktif berorganisasi di OSIM dan Pramuka. Menurutnya, organisasi membentuk karakter disiplin, percaya diri, dan tanggung jawab.

Perjalanan Olif menuju Fakultas Kedokteran ternyata terjadi secara tak terduga. Saat proses finalisasi pendaftaran SNBP, telepon genggam miliknya mendadak error.

Awalnya, Olif berencana memilih jurusan Keperawatan dan Gizi karena dianggap lebih realistis dengan kondisi ekonomi keluarga. Namun saat panik menghadapi gangguan pada ponselnya, ia langsung menekan tombol finalisasi tanpa sempat memeriksa ulang pilihan jurusan.

“Setelah selesai mendaftar, saya baru menyadari bahwa program studi yang saya pilih ternyata Fakultas Kedokteran,” ungkapnya.

Olif mengaku semakin tidak percaya diri karena menganggap peluang lolos sangat kecil. Namun pada 31 Maret 2026, pengumuman SNBP justru membawa kabar mengejutkan. Ia dinyatakan diterima di Fakultas Kedokteran UIN Walisongo Semarang.

“Saya terkejut dan langsung menangis. Bukan hanya karena bahagia, tetapi juga karena bingung dan tidak percaya,” katanya.

Kepala MA Al-Azhar, Sri Wati, menyebut Olif sebagai sosok pelajar cerdas dan tekun. Menurutnya, keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa keterbatasan ekonomi bukan penghalang meraih cita-cita.

“Ini adalah buah kesabaran orang tua dan juga Olif. Allah telah menjawab doa-doa mereka,” ujar Sri Wati.

Pihak sekolah pun berupaya membantu Olif agar tetap bisa melanjutkan pendidikan kedokteran, termasuk mengajukan permohonan keringanan UKT.

Sementara itu, Kepala Kemenag Kabupaten Rembang, Moh. Muhson menyebut capaian Olif sebagai prestasi membanggakan bagi madrasah di Rembang.

“Dengan ketekunan dan kesabarannya, Olif berhasil mencapai impiannya menjadi dokter,” katanya.

 

 

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.