EKSCHOOL.ID, – Saya obesitas sejak lahir. Ya, kamu tidak salah baca. Berat badan saya saat lahir menyentuh angka 5 kilogram. Angka itu sudah melewati berat normal bayi baru lahir (2,6 kg-3,8 kg). Jadi, ketika datang ke dunia yang katanya fana atau hanya sementara ini, saya sudah mendapatkan label makrosomia.
Dalam bahasa medis, makrosomia adalah kondisi bayi lahir dengan berat badan lebih dari 4 kilogram. Mereka yang mendapatkan label makrosomia berpotensi mengidap obesitas dan diabetes. Tapi, saya tidak peduli dengan potensi itu. Saya hanya membayangkan bagaimana ibu saya melahirkan saya. Sebab, melahirkan bayi makrosomia bukan hal mudah. Lebih sulit dari yang lain. Nyawa pun berpotensi lenyap seketika.
Selain itu, kalau boleh sombong, saya juga mendapatkan predikat “ANAK LUCU.” Predikat ini tentu tidak saya buat-buat. Toh, kata ibu dan saudara-saudara terdekat, saya sangat-sangat menggemaskan. Pipinya gembil dan enak untuk dicium maupun dicubit. Saya dengan tingkat kepercayaan diri yang tinggi menilai bahwa itu adalah anugerah dari Yang Kuasa.
BACA JUGA INI GENGS…Kenali Aplikasi Odiga, Bisa Membantu Perjalanan atau Liburan Makin Efektif
Ibu dan saya sangat acuh dengan makrosomia. Keacuhan itu membuat saya melahap banyak makanan yang disukai. Nangis sedikit, susu tersedia. Marah sedikit, ibu siap-siap menggendong dan menyuapi saya dengan beragam asupan balita. Situasi tersebut terjadi bertahun-tahun hingga saya lulus kuliah.
Dari baru lahir sampai saat ini, saya selalu kelebihan berat badan. Tidak pernah tidak. Ibu bilangnya saya gemuk. Namun, dokter melabeli saya obesitas. Macam-macam sebutan itu tidak membuat saya sadar bahwa saya obesitas dan rentang dengan penyakit, khususnya diabetes.
Sebenarnya, saya tidak mempermasalahkan segala macam predikat itu. Hanya saja, saya kerap sakit hati dengan cemoohan orang-orang soal badan besar, gemuk, gendut, dan seterusnya. Itu terjadi ratusan kali atau bahkan ribuan. Saya lupa enggak mencatat berapa orang yang mencemooh saya dengan kata gendut, lamban, kentung, gajah, dan lain-lain. Sudah pasti, saya beberapa kali nangis dengan cemoohan itu.
BACA JUGA INI GENGS…Boys Boleh Cry
Jika lebih menerima kenyataan, saya seharusnya tidak usah gusar atau sakit hati dengan cemoohan orang-orang. Toh, mereka benar tentang cemoohan itu. Saya gendut, gemuk, dan mirip hewan berbadan besar.
Hanya saja, saya seperti menolak direndahkan. Seperti kata Jeremy E. Sherman dalam esai bertajuk The Right and Wrong of Ridicule, orang yang mencemooh selalu menempatkan dirinya lebih baik atau di atas yang dicemoohnya. Saya dicemooh gendut. Berati, orang-orang yang mencemooh saya secara tidak langsung mengatakan bahwa gendut selalu lebih buruk dari yang tidak, yang obesitas selalu lebih rendah dari yang tidak.
Hal itu barangkali yang membuat saya geram, sakit hati, atau bahkan menangis sesenggukan di pojokan kamar setelah mendapatkan cemoohan dari orang-orang yang saya sendiri tidak tahu siapa.
Sampai saat ini, saya masih melihat sorotan mata tajam yang meremehkan dari orang-orang misterius. Mereka selalu saja memperlihatkan betapa buruknya badan besar saya. Padahal, kan, keberagaman itu indah, ya? Ada gendut, ada kurus. Lengkap sudah.
Rangkuman perjalanan menyebalkan saya sebagai orang gemuk tersebut membuat saya yakin bahwa “don’t judge a book by its cover” tidak berlaku, lapuk, bapuk, berayap, berjamur, dan seterusnya, dan seterusnya.
Idiom itu tentu sangat menenangkan siapa saja. Kita tidak perlu repot-repot bersolek –entah itu penampilan maupun tindakan yang susahnya minta ampun– untuk mendapat tempat di pikiran dan hati orang lain. Cukup dengan jadi diri sendiri, dunia sudah tahu siapa kita seutuhnya –luar dan dalam.
BACA JUGA INI GENGS…9.000 Kasus Nekrosis Pulpa Dirawat di RSKGM, Yuk Jaga Kesehatan Gigi
Namun, mana ada, sih, orang yang mau berdekatan dengan orang yang tidak memiliki first impression oke? Contohnya saya yang berbadan gemuk dan obesitas. Baru melihat, sudah mencemooh. Baru kenal, sudah merendahkan. Toh, untuk mengeja kebijaksanaan, kehebatan, kelebihan, dan kebaikan orang butuh waktu yang sangat lama. Orang tentu tidak mau lihat betapa lembutnya saya, betapa hangatnya saya, betapa bawelnya saya.
Yakin, nih, rela meluangkan waktu untuk itu semua untuk saya? Sepertinya tidak. Namun, saya mau menegaskan bahwa adakalanya cover itu menipu. Eh, bukan adakalanya deng, tapi seringnya.
Jadi, saya hanya mau mengingatkan cemoohan adalah hal paling menyakitkan dari obesitas. Mereka yang obesitas rata-rata sudah tahu bahwa obesitas adalah sumber penyakit. Namun, cemoohan tidak akan memulihkan itu. Yang ada, cemoohan hanya akan merusak kesehatan jiwa mereka yang butuh semangat dan kehangatan.
*Penulis adalah Collaboration Ekschool







