EKSCHOOL.ID, – Pemerintah Provinsi Jawa Barat tengah menyiapkan kawasan Rebana menjadi pusat industri baru. Untuk menunjang industri di kawasan ini, sejumlah kampus pun bakal dibangun di sejumlah daerah terdekat.
Kepala Dinas Penanaman Modal Perizinan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jabar, Nining Yuliastiani mengatakan sumber daya manusia (SDM) di Provinsi Jawa Barat (Jabar) masih menjadi kunci untuk menarik investasi. Meski demikian, dengan adanya kawasan industri baru maka SDM di daerah pnunjang harus bisa disesuaikan dengan kebutuhan.
DPMPTSP telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah yang ada di kawasan industri serta sejumlah perguruan tinggi untuk membangun sekolah vokasi. Misalnya, di Cirebon akan dibangun kampus oleh Institut Teknologi Bandung (ITB). Kemudian ada Politeknik Manufaktur (Polman) yang bakal dibangun di Kabupaten Majalengka dan beberapa sekolah vokasi bakal dibangun di Kabupaten Subang.
Dengan adanya sekolah vokasi atau perguruan tinggi di sana, maka para mahasiswa yang masuk bisa mendapat pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan industri sekitar. Harapannya, ketika mereka lulus bisa langsung mendapatkan pekerjaan sesuai dengan apa yang industri butuhkan di masa depan.
BACA JUGA INI GENGS…Sembilan Tips Memilih Kampus untuk Kamu yang Baru Lulus SMA
“Sehingga jangan takut dengan perubahan industri ke 4.0 juga karena memang banyak hal bisa dilakukan agar SDM tetap terserap. Salah satunya dengan peningkatan skil mereka,” kata dia dalam sebuah diskusi di Kota Bandung, Rabu (2/8/2023).
Menurutnya, perbaikan skil SDM sesuai dengan kebutuhan industri di kawasan Rebana sangat penting sehingga perusahaan yang ada di sana nantinya tidak mencari pekerja dari luar daerah. Harapannya masyarakat di sekitar Rebana bisa terakomodasi untuk bekerja, tapi tetap dengan skil mumpuni.
Dia menyebut di Rebana akan ada beberapa kawasan industri, salah satunya yang membutuhkan suplai air banyak seperti tekstil dan produk tekstil (TPT). Menurut Nining, berdasarkan pengembangan tata ruang yang baru kawasan Cekungan Bandung sudah sulit memberikan suplai air untuk industri. Sehingga industri seperti ini harus bisa mempersiapkan diri pindah dari sekitar Bandung Raya.
“Kami sudah memikirkan ke sana dan sedang kami upayakan. Bandung ini sudah tenaga kerja mahal, air juga sulit,” ungkap Nining.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) menargetkan investasi di angka Rp188 triliun pada 2023. Hingga semester pertama, nilai investasi yang masuk berada di angka Rp103,6 triliun atau 55 persen.
BACA JUGA INI GENGS…Mau Kuliah di ITB? Simak Penjelasan Penerimaan Mahasiswa Baru ITB Tahun 2023
Akademisi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran (Unpad) Bayu Kharisma mengatakan, penyertaan modal asing (PMA) di Jabar masih lebih tinggi dari penyertaan modal dalam negeri (PMDN). Pada kuartal I 2023 misalnya, realisasi investasi PMA Jawa Barat adalah sebesar Rp28,12 triliun atau 56,23 persen dan PMDN sebesar Rp21,89 triliun atau 43,77 persen dari total investasi.
Tingginya investasi tersebut menandakan bahwa peluang mencari pekerjaan di Jabar masih tinggi. Dia berharap Pemprov Jabar bisa mencari tahu lebih dalam sektor apa yang diminati investor, di mana penyertaan modal tersebut harus selaras dengan penyerapan tenaga kerja.
“Saya menilai bahwa di Jabar masih harus mengutamakam modal untuk padat karya yang bisa menyerap lebih banyak pekerja. Jangan sampai banyak investasi tapi serapan tenaga kerja sedikit,” kata Bayu.
Berdasarkan data dari Dinas Tenaga Kerja Provinsi Jabar, angka pengaguran terbuka mencapai angka 7,89 persen. Angka pengaguran di Jabar ini hanya berbeda tipis dengan Banten yakni 7,97 persen.
Meski demikian, angka pengangguran terbuka Jawa Barat mengalami penurunan. Data year on year (yoy/tahunan) bulan Februari tahun 2022, angka pengangguran Jabar menyentuh 8,35 persen.
BACA JUGA INI GENGS…Lima Sektor Pekerjaan untuk Kamu yang Belum Berniat Melanjutkan Kuliah
Bayu mengatakan, saat ini industri di Jabar memang masih harus memikirkan besaran upah yang harus dibayarkan kepada setiap pekerja karena lebih tinggi dibandingkan daerah lainnya. Meski demikian, SDM dari Jabar diklaim lebih baik dari daerah lainnya, sehingga masih bisa bersaing dari segi produktivitas.
“Karena angka kebutuhan serapan kerja masih tinggi. Jadi untuk padat karya juga masih banyak mau masuk ke Jabar,” kata dia.
Beberapa sektor yang sekarang masih menjadi andalan seperti tranpsortasi, pergudangan, hingga komunikasi. (DEB)









