EKSCHOOL.ID, BANDUNG – Pernah ga kalian lagi liburan ke suatu tempat, tapi pas sampai sana bingung mau ngapain? Akhirnya kesana kemari ga jelas deh. Atau pas pulang baru nyesel karena ada spot yang terlewat.

Nah, biar ga bingung lagi, ada beberapa mahasiswa ITB yang bikin aplikasi perencana perjalanan berbasis kecerdasan buatan. Nama aplikasinya Odiga yang di dalamnya memanfaatkan K-Means clustering, collaborative filtering, dan genetic algorithm.

Duh bingung kan yah? Hahaha. Jadi gini, di dalam aplikasi itu ada empat fitur. Fitur pertama adalah perencanaan perjalanan dengan peta interaktif dari Mapbox GL JS. Sederhananya, pengguna bisa memilih tempat-tempat yang ingin dikunjungi langsung di atas peta.

Wow!! Permohonan-dispensasi-menikah-mencapai-50-ribu/

Fitur kedua adalah perencanaan waktu berbasis artificial intelligence (AI). Dengan sekali klik, dikasih tau tuh soal pembagian waktu paling efektif berdasarkan lokasi tempat dan jumlah hari dari rencana perjalanan.

Fitur ketiga pengoptimalan rute berbasis AI. Jadi, dikasih tau tuh urutan lokasi yang ingin dituju mengikuti urutan lokasi. Jadi, waktu yang dibutuhkan bisa efisien, urutan perjalanan menjadi lebih rapi.

Fitur terakhir yaitu rekomendasi tempat menggunakan collaborative filtering algorithm. Ketika mengunjungi tempat baru, referensi tempat wisata dapat membantu turis memaksimalkan pengalaman perjalanannya. Odiga memberikan rekomendasi tempat beserta ratingnya dan langsung bisa ditambahkan ke rencana perjalanan pengguna.

Siapa sih orang di balik Inovasi ini? Mereka adalah tim yang terdiri dari dua mahasiswa dari jurusan Teknik Fisika bernama Nafi Mulyo Kusumo dan Syarifa Khairunnisa. Lalu, satu mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Komputer Cipta Karya Informatika, Muhammad Rifqi Syatria.

Gengs, Ini Penting! Tahun-ini-diprediksi-resesi-waspada-tapi-harus-tetap-optimis/

Tim ini meraih juara 1 lomba Compfest 14 2022 yang diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dimulai sejak akhir Juni 2022 dan ditutup dengan malam penghargaan pada 30 Oktober tahun lalu.

Syarifa mengaku sebelum menentukan aplikasi yang dibuat, proses brainstorming menjadi penting, hingga akhirnya muncul design thinking.

“Tahap pertama design thinking itu adalah empathize. Dalam menentukan ide, coba dikaji, ditinjau lagi, supaya ide itu benar-benar tepat sasaran. Walaupun dari segi teknologi itu canggih banget, mungkin karena kurang tepat sasaran dan kurang applicable di kehidupan sehari-hari, nilai jualnya jadi berkurang. Jadi yang pertama, pastikan ide itu benar-benar tepat sasaran,” tutup Syarifa.

Mudah-mudahan aplikasi ini bisa makin popular dan dimanfaatkan oleh orang banyak. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *