EKSCHOOL.ID, – Punk itu rumit. Pertanyaan “Apa Itu Punk?” pun tidak pernah menemukan jawaban yang eksplisit. Ada banyak literatur tentang Punk memang, tetapi tidak ada yang benar-benar memaparkan Punk dengan sejelas-jelasnya, serinci-rincinya.
Gitaris sekaligus vokalis band Green Day, Billie Joe Armstrong, yang terkenal sebagai musisi dan kiblat musisi-musisi Punk di dunia, termasuk Indonesia, pernah berkata:
“Seorang pria mendatangi saya dan bertanya, ‘Apa itu Punk?’. Aku menendang tong sampah dan berkata. ‘Itu punk!’ Jadi dia menendang tong sampah dan berkata, ‘Itu Punk?’, dan saya berkata, ‘Tidak, itu tren!'” ucap Billie dilansir Far Out Magazine.
Perkataan itu menyiratkan bahwa Punk milik siapa saja, tetapi, ya, itu, sulit dipahami. Punk itu bisa jadi ideologi, budaya, genre musik, perlawanan, gaya hidup, bentuk perlawanan, kelompok, atau bahkan hanya fashion.
Sedangkan mantan pentolan band Nirvana, Kurt Cobain, pernah menyatakan bahwa Punk adalah kebebasan bermusik. Menurutnya, Punk tidak punya batasan dalam sisi musik. Semua bisa memainkan, semua bisa bernyanyi.
“Nirvana sendiri berarti kebebasan dari rasa sakit, penderitaan, dan dunia luar, dan itu cukup dekat dengan definisi saya tentang Punk itu sendiri,” ucap Cobain.
Berdasarkan penelusuran Far Out Magazine, Punk awalnya hanya label media terkait bisnis musik. Jurnalis Greg Shaw, yang menulis untuk The Rolling Stone, pertama kali menggunakan istilah Punk untuk menggambarkan The Guess Who pada 1971. “Good, tidak terlalu imajinatif, Punk, Rock, and Roll.”
Selain Shaw, jurnalis bernama Dave Marsh juga menggunakan kata Punk untuk mendeskripsikan band rock psikedelik Question Mark and the Mysterians.
Semangat Punk
Rupa-rupa pernyataan soal Punk, termasuk asal-usulnya, memiliki satu napas, satu nyawa, yang dirangkum dengan jelas oleh Malcolm Barnard dalam buku Fashion as Communication.
Menurut Barnard, Punk hadir untuk melakukan perlawanan kepada penguasa tiran. Masifnya perkembangan Punk pada tahun 70-an tidak lepas dari kekecewaan kelas pekerja terhadap sistem ekonomi kapitalisme serta kebijakan penguasa.
Mereka yang membuat lingkaran dan menamakan diri sebagai Punk berpandangan bahwa kebijakan penguasa saat itu hanya mengeksploitasi, menindas, dan mendiskriminasikan kelas pekerja. Suara-suara perlawanan mereka meluas melalui musik dan fashion. Dua hal itu yang kemudian menjadi media Punk untuk menunjukkan eksistensi.
Dick Hebdige dalam buku bertajuk Subculture: The Meaning Style mengamini pernyataan Barnard. Dengan lebih tegas, Hebdige menuliskan bahwa Punk berarti semangat perlawanan. Semangat itu terlihat dari simbol-simbol Punk, entah dari fashion maupun musik, yang selalu anti-mainstream.
Salah satu simbol Punk adalah rambut Mohawk. Gaya rambut itu diartikan sebagai anti penindasan sekaligus kebebasan yang terinsipari dari film Drums Along the Mohawk. Kemudian celana ketat menandakan himpitan hidup. Semua bentuk fashion Punk selalu memiliki arti soal perlawanan.
Adapun semangat lain yang membuat Punk bertumbuh dengan pesat yakni Do It Yourself atau D.I.Y. Secara filosofis, semangat itu merupakan prinsip atau etika untuk lepas dari ketergantungan terhadap orang lain, yang muncul akibat ketidakpuasan kelas pekerja terhadap sistem pemerintahan yang kapitalis.
Supaya lepas dari ketergantungan terhadap pemerintahan, Punk intens mendentumkan D.I.Y dalam musik, fashion, atau bahkan kehidupan. Ini juga yang membuat Punk menyusup ke ruang-ruang keyakinan dan hidup pemuda, menyebar luas ke penjuru dunia, dan simbol perlawanan global.
Punk Itu Lokal
Meski menjadi simbol perlawanan secara global, Punk bisa masuk ke semua gerakan social change/movement. Suara-suara perlawanan Punk tidak selalu soal isu global. Punk itu hidup dari kelompok-kelompok kecil yang membahas isu-isu lokal. Hal itu terekam jelas dari nada-nada perlawanan Punk yang berbeda-beda di setiap negara.
Profesor Samantha Bennett dari The Australian National University (ANU) menuturkan, perlawanan Punk itu beragam. Di Indonesia, kata Bennett, gerakan Punk intens mendentumkan perdagangan manusia, dan represi pemerintah.
Sedangkan di Kolombia, gerakan Punk menceritakan penindasan di Bogota, maskulinitas, dan menentang perubahan iklim. Ada juga gerakan Punk yang mendentumkan vegetarianisme dan veganisme.
“Ada juga gerakan Punk yang terlibat dalam gerakan pembebasan hewan dan organisasi-organisasi lain yang cukup ekstrem,” ucap Bennett dilansir situs resmi The Australian National University.
Perlawanan Punk yang beranekaragam itu didasari oleh kejadian dan permasalahan lokal. Maka tidak heran apabila Punk terus hidup meski zaman dan permasalahan berubah-ubah.
Punk boleh saja menjadi simbol perlawanan global. Namun, Punk akan selalu mendentumkan nada-nada yang terdengar dekat dan hangat. Jika mendengar gerakan maupun komunitas Punk berbicara tentang bahaya setan tanah, yakinlah bahwa sedang ada rakyat kecil yang tertindas dan dipaksa hengkang dari tanah kelahirannya. (OKY)
*Penulis adalah Collaboration Ekschool








