EKSCHOOL.ID, – Mimpi selalu membutuhkan alasan. Ketika Persib Bandung juara Liga 1 2023/2024, mimpi bocah-bocah yang menggilai sepak bola bermekaran. Sorak-sorai orang tua yang bising dan membengkakkan telinga menyulut bocah-bocah untuk menggantungkan bunga tidur setinggi langit.
Sebagian orang tua menganggap bahwa anak mereka boleh bermimpi setinggi-tingginya, bahkan sampai langit tingkat ketujuh. Dialog-dialog yang berkaitan dengan mimpi nyaris penuh dengan optimistis. Kalimatnya indah-indah, penuh dengan keriangan.
Bagi orang tua ini mimpi adalah imajinasi tanpa batas yang menyeret anaknya bertarung habis-habisan untuk mewujudkan ketiadaan saat ini pada masa depan. Mimpi serupa gairah yang menawarkan harapan, kebahagiaan, dan kegembiraan tak terhingga.
Orang tua saya adalah orang tua yang seperti itu. Mereka membebaskan saya bermimpi ini-itu. Bahkan ketika saya bermimpi ingin menjadi pemain Persib Bandung, orang tua saya tak pernah melarang atau menertawakan.
Sebagai anak penggila sepak bola dan Maung Bandung, mimpi tersebut adalah mimpi yang masuk akal. Puluhan teman-teman saya pun memiliki bunga tidur yang sama. Mimpi yang sangat lumrah bagi bocah-bocah di Kota Bandung atau bahkan Jawa Barat.
Bagi saya dulu dan bocah-bocah lainnya, Persib adalah simbol kehebatan. Atmosfer stadion, sorak-sorai bobotoh, dan kibaran bendera Maung Bandung, hanya bagian kecil yang mengikat emosi bocah-bocah seperti saya dulu dengan Persib. Itu juga yang menjadi alasan kenapa bermimpi jadi pemain Persib bukan isapan jempol. Ada alasan kuat yang menyertainya.
Persoalannya, saya obesitas. Berat badan saya selalu berlebihan. Gerak dan lari saya tidak segesit teman-teman yang lain. Saat bermain bola juga, saya selalu jadi pusat tertawaan orang-orang. Semakin rumit karena saya tak bisa mengurangi porsi makan. Orang tua saya juga rajin menyuguhkan makanan dan minuman yang membuat nafsu makan saya meletup-letup.
Namun, orang tua saya tak pernah melunturkan semangat saya bermain bola dan bermimpi jadi pemain Persib Bandung. Saya juga tak pernah berkecil hati. Ya, setidaknya sampai saya duduk di bangku SMP.
Ketika itu, mimpi menjadi pemain Persib meluntur sedikit demi sedikit. Keadaan membuat saya mustahil untuk menggapai mimpi menjadi pemain Persib yang sudah saya simpan di atas langit, di dalam pikiran. Itu terjadi terus-menerus hingga saya berusia 22 tahun dan mimpi menjadi pemain Persib hilang seketika.
Apa yang terjadi pada saya mengonfirmasi kata-kata orang bijak: Semakin kau tua dan jatah hidupmu menyusut, bunga tidur akan berguguran. Ingatan akan mimpi-mimpi indah perlahan hilang, karena tuntutan hidup selalu mengacaukan angan-angan.
Saya punya keyakinan bahwa apa yang terjadi pada saya, gagal mewujudkan mimpi jadi pemain Persib, terjadi juga pada jutaan bocah-bocah lainnya. Yang dapat menguatkan hanya pernyataan: Jika bunga tidurmu berguguran, kamu akan baik-baik saja. Kamu tetap hidup dan bernapas.
Namun, entah kenapa, saya tidak pernah mau menertawakan atau memadamkan bara semangat bocah-bocah saat ini yang bermimpi jadi pemain Persib. Di lingkungan rumah saya, ada begitu banyak anak-anak yang berkata “suatu saat nanti bisa jadi pemain Persib.” Ini bukan omong kosong.
Mereka, meski tinggal di dalam gang dan hidup pas-pasan, tetap menyepak bola dari lapang kecil ke lapang kecil lainnya, dari Sekolah Sepak Bola (SSB) ke SSB lainnya, dari turnamen kecil ke turnamen lainnya. Gairah mereka sangat liar.
Bagi saya, gairah mereka untuk mewujudkan mimpinya tersebut bukan hal tabu. Saya tahu bahwa bermimpi menjadi Persib adalah salah satu mimpi yang masuk kategori nyaris mustahil. Namun, mengerdilkan mimpi dan memadamkan gairah mereka adalah tindakan egois.
Membiarkan atau bahkan mendukung anak-anak bermimpi menjadi pemain Persib bisa jadi salah satu kebijaksanaan dalam dunia sepak bola. Toh, mimpi yang mustahil atau gagal bukan masalah besar.
Saya dan sebagian orang-orang yang hidup saat ini sudah pasti pernah kehilangan banyak mimpi yang tak terwujud. Namun, saya dan sebagian orang-orang itu nyatanya tetap hidup, bernapas, dan mencintai Persib Bandung. Entah sampai kapan.
*Penulis adalah Collaboration Ekschool,





