EKSCHOOL.ID, – Ketika hidup sedang tidak baik-baik saja, menangis bisa jadi solusi terbaik untuk menggugurkan satu per satu kegelisahan, ketakutan, kesedihan, dan seterusnya, dan seterusnya.
Namun, sebagian orang menganggap bahwa menangis hanya untuk perempuan. Dialog-dialog yang bersinggungan dengan menangis selalu tentang kelemahan, kerapuhan, dan kelembutan. Kalimatnya bernada feminim, tanpa sedikit pun menyinggung maskulinitas.
Bagi orang-orang ini, budaya “boy don’t cry” mengakar kuat. Jika ada laki-laki terisak-isak sambil mengalirkan air mata dengan deras di pipinya, orang-orang ini akan berteriak “dasar cengeng, payah, ringkih!!!!!” Kehangatan tepukan tangan di pundak sebagai penenang tak mungkin terjadi.
BACA JUGA INI GENGS…NIION Menandai Perjalanan Satu Dekade dengan Flagship Store di Kota Bandung
Terlepas dari segala penderitaan dan kesusahan yang terjadi, sebagian laki-laki pada akhirnya memutuskan untuk memedam luka dengan sebaik-baiknya. Mereka rela menyeret dirinya sendiri dalam kepedihan yang terpatri. Semakin terlihat kuat, semakin mereka tenggelam dalam dukacita.
Padahal, menahan air mata ketika hidup tidak baik-baik saja memiliki efek negatif yang merusak kejiwaan. Semakin menahan diri, semakin dekat dengan pikiran bengis untuk melenyapkan dirinya sendiri.
Itu juga yang menjadi perhatian Psikolog bernama Virginia Eatough. Bagi Eatough, laki-laki yang berada di lingkungan dengan budaya “boys don’t cry” memiliki beban psikologis berat. Imbasnya, mereka acapkali menaruh harapan pada tiang gantungnya sendiri.
BACA INI JUGA GENGS…Pemilih Pemilu 2024 Didominasi Gen Z dan Milenial
Situasi tersebut selaras dengan data Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO. Berdasarkan data WHO pada 2016, terjadi 793.000 kematian akibat bunuh diri di seluruh dunia. Sebagian besar dilakukan oleh laki-laki.
Di Inggris, tingkat bunuh diri laki-laki berada di angka 15,5 kematian per 100.000. Sedangkan tingkat bunuh diri perempuan sekitar 4,9 kematian per 100.000.
Sementara di Australia, tingkat bunuh diri laki-laki lebih besar tiga kali lipat dari tingkat bunuh diri perempuan. Begitu juga di Amerika Serikat, Rusia, dan Argentina.
Memang, ada begitu banyak faktor yang membuat tingkat bunuh diri pada laki-laki lebih besar dari perempuan. Namun, Wakil Presiden American Foundation for Suicide Prevention, Jill Harkavy-Friedman, menyoroti kepiawaian laki-laki untuk memendam luka dan kesusahan.
Menurut Harkavy-Friedman, gengsi laki-laki menyampaikan perasaannya sangat tinggi. Itu membuat laki-laki sulit terlepas dari emosi negatif yang menyerangnya, dan menggerogoti kesehatan mentalnya sendiri.
“Bukannya laki-laki tidak memiliki masalah yang sama dengan wanita, tetapi mereka cenderung tidak mengetahui bahwa mereka memiliki tekanan atau kondisi kesehatan mental apa pun yang menempatkan mereka pada risiko yang lebih besar untuk bunuh diri,” ucap Harkavy-Friedman dilansir BBC.
BACA JUGA INI GENGS…Konser JKT48 di Bandung Pecah, Ribuan Wota Sesaki Mall Ciwalk
Bunuh diri memang merupakan masalah yang sangat sensitif, pribadi, dan kompleks. Sebab, ada banyak penyebab yang rumit dan sulit terurai soal alasan terkuat seseorang melenyapkan dirinya sendiri di dunia. Namun, kata Harvaky-Friedman, menjaga kesehatan mental dapat jadi solusi untuk mencegahnya.
Selain, mengeluarkan kegelisahan dengan menangis bisa jadi opsi lain untuk merawat kesehatan mental dan kehidupan, baik bagi laki-laki maupun perempuan.
Air mata yang mengalir di pipi bukan tanda kita rapuh, melainkan bentuk lain untuk mengurai penderitaan, kesusahan, dan seterusnya, dan seterusnya.
Memang, kematian adalah bagian dari kehidupan. Namun, jika itu disebabkan oleh diri sendiri, sangat sulit untuk diterima. Yang perlu diingat, masalah hari ini adalah candaan esok hari. Kegelisahan hari ini adalah penguat bulan depan.
Biarkan Tuhan memanggil saat waktunya tiba. Saat kita mengantungi cerita-cerita unik tentang hidup dan dunia. Bertahan dan jangan ragu untuk menangis jika kebahagiaan menjadi dan seolah-olah sulit tergapai. (Okky Ardiansyah)





