EKSCHOOL.ID, – “Kenapa kebahagiaan tidak pernah bersahabat kepadaku, bersahabatnya sama orang-orang berduit saja.”
“Hidup, kok, gini-gini amat ya, berat dan perih, dan aduh-aduhan.”
“Aku hanya butiran debu, kamu berlian.”
“Kerja 12 jam sehari, tapi kenapa enggak kaya-kaya, malah tipes.”
Deretan pernyataan itu adalah sebagian dari keluh kesah manusia. Semakin banyak mengucapkan pernyataan tersebut, semakin banyak orang-orang melabeli kita sebagai manusia tak bersyukur, tukang ngeluh, dan seterusnya.
Padahal, mengeluh itu manusiawi. Filsuf pesimisme yang tersohor Arthur Schopenhauer pernah berkata, manusia punya kemampuan mengusir jauh-jauh kebahagiaan dan rasa syukur akan hidup, akan kehidupan.
Kebahagiaan yang sudah diraih pun dapat lenyap seketika dan memilih untuk tetap cemas dengan kehidupan. Karena itu, ada saja manusia yang mengejar predikat paling menderita. Seolah-olah pencapaian atau kebahagian tidak pernah jadi perhitungan. Karena itu, mengeluh adalah hal wajar bagi manusia.
“Aku sehari kerja sepuluh jam, tapi cuma dibayar 200 ribu,” kata A.
“Aku kerja sepuluh jam lebih 20 menit, dibayar cuma 195 ribu,” jawab B.
“Tapi, tempat kerjamu bagus, temannya juga asyik. Lah aku….” respons A enggak mau kalah menderita dan tersiksa dari si B.
Thomas Henricks dalam esai bertajuk Why We Complain memaparkan alasan-alasan kenapa manusia suka sekali mengeluh. Pertama, mengeluh adalah cara terbaik untuk mencari kelegaan saat beban hidup terasa sangat berat.
Kedua, manusia mengeluh untuk mendapatkan perhatian dari orang terdekat. Dengan mengeluh, manusia akan mendapatkan kata-kata yang menenangkan seperti “Kamu hebat, masih bisa bertahan meski aduh-aduhan.”
Terakhir, dengan mengeluh, manusia akan mendapatkan simpati dan kepastian bahwa hidup benar-benar sedang tidak berpihak. “Hidup emang berat dan perih. Yuks, habis ngeluh, kita jalanin lagi.”
Menurut Henricks, mengeluh juga memiliki dampak yang baik bagi psikologi manusia. Dengan mengeluh atau merutuki dunia maupun kehidupan, manusia bisa termotivasi untuk terus bekerja keras menggapai cita-cita.
Selain itu, mengeluh adalah jalan ninja untuk menghilangkan stres sekaligus memperkuat hubungan dengan orang yang mendengarkannya. Makanya, ada banyak sekali manusia yang berkeluh kesah dengan lawan jenis kelamin. Ini tentu saja ada tujuan lain, yakni menebar bibit-bibit cinta. Hehehehe.
Meski manusiawi, mengeluh sewajarnya saja. Jangan banyak-banyak. Selain nanti jadi omongan orang-orang, mengeluh bisa berdampak buruk bagi kesehatan mental.
Bagi Henricks, keseringan mengeluh dapat membuat manusia mudah marah dan selalu pesimitis. Kemudian, hal yang dikeluhkan juga tidak akan beres-beres. Ini juga yang mendorong manusia mengalami masalah kejiwaan.
“Lalu bagaimana jika kita sulit berbahagia karena emang tidak bahagia? Mengeluh terus ‘kan bisa buat tenang.”
Kalau emang sulit bahagia, mari kita selaraskan ekspektasi dan kenyataan. Seperti kata Schopenhauer, kebahagiaan manusia ditentukan oleh ekspektasi.
Semakin besar ekspektasi, kata Schopenhauer, kebahagiaan kian sulit dicapai. Ekspektasi yang besar hanya membuat manusia berteman karib dengan banyak penderitaan dan kata sifat muram lainnya: Kesedihan, kemalangan, keterpurukan, dan seterusnya.
Dalam esai berjudul ‘On the Suffering of the World’, Schopenhauer menulis bahwa kadar kebahagiaan bukan diukur dari banyaknya suka cita dan kesenangan, melainkan sejauh mana manusia terbebas dari penderitaan.
Jadi, kita sebenarnya bisa sering berbahagia asalkan menyelaraskan pengharapan dengan kenyataan. Memang akan sulit, tapi setidaknya mencoba. Biar kita bisa berkawan dengan kebahagiaan, kehidupan, persoalan, dan penderitaan.
Hal paling sederhana yang dapat kita lakukan adalah meyakini bahwa masalah hari ini adalah candaan esok hari. Meski masalah hari ini berat, semua akan selesai pada waktunya dan menjadi bahan guyonan saat ngopi bareng teman-teman.
*Penulis adalah Collaboration Ekschool










